Blogger Template by Blogcrowds.

Rabu, 18 November 2009

Citizen Erased

Pas lagi melou melou nya, saya sedang senang mendengarkan lagu ini. Diambil dari album Origin of Symmetry, peband ini selalu sukses membuat saya mau menghilang dari bumi.... Satu lagi, saya paling senang bait terakhir :)

break me in, teach us to cheat
and to lie, cover up
what shouldn't be shared?
all the truth's unwinding
scraping away at my mind
please stop asking me to describe

for one moment
i wish you'd hold your stage
with no feelings at all
open minded
i'm sure i used to be so free

self-expressed, exhausting for all
to see and to be
what you want and what you need
the truth's unwinding
scraping away at my mind
please stop asking me to describe

wash me away
clean your body of me
erase all the memories
they will only bring us pain
and i've seen, all i'll ever need

Sabtu, 14 November 2009

Ressurection

Sebuah obrolan pendek tengah malam:


"Kenapa orang harus berbahagia?", tanyaku

"Apa yang membuatmu tidak bahagia?, tanyanya

"Aku takut dengan misteri yang disimpan oleh hari esok. Hatiku tidak tenang, seperti masa depan ingin membunuhku," akuku

"Bahagia selalu diperhadapkan dengan penderitaan, jika kita mengundang derita, pada saat itu juga jiwa akan selalu merasakan kegelisahan dan takut," jawabnya

"Apa yang harus aku lakukan agar semua deritaku berakhir, mengundang bahagia?" tanyaku lagi

"Manusia gelisah oleh ketidakpastian. Manusia butuh kepastian..."

"Dan apakah kepastian itu?" tanyaku

"Filsuf menamakannya eksistensi, agamawan menyebutnya Tuhan. Datangnya sebuah rencana sangat tidak pasti, tapi cinta Nya yang menyembuhkan kesedihan adalah sebuah kepastian... Ia mencintai dengan cara yang kadang tidak kita pahami..."

Tiap malam aku mati, tiap malam pula aku terbangun. Aku telah mati berkali-kali...

Every night I die, every night I awake...Ressurection...*

*petikan narasi dalam Fight Club

Kamis, 12 November 2009

Mampirlah, aku menunggu

...Then on 3rd February 2010, Muse will be playing in Singapore at the Singapore Indoor Stadium....

Informasi ini agak-agak membuat perasaan saya berbunga-bunga. Asia, here they go again!!! Seperti tiga tahun sebelumnya, Muse tampil di Singapura. Atas kejelian seorang Adrie Soebono, mereka bisa tampil di Jakarta, meski saat itu Jakarta masih tahap pemulihan peristiwa banjir. Dan saya tidak datang waktu itu, how pity I am.... :(

Mudah-mudahan mereka mau mampir lagi, dan saya harap saya bisa datang kali
ini...Saya tahu Matt bangga dan senang berkunjung ke Indonesia (maksudnya??? bukan berarti dia suka saya kan? hahahahah...). Walau ini terdengar sangat lucu, tapi saya senyum-senyum waktu dalam sebuah wawancara sebuah radio di US, ketika ia ditanya negara kunjungan favoritnya adalah Indonesia,,,Wow...sekali lagi saya bukan favoritnya, tapi Indonesia yang ia lihat di Gelora Bung Karno....

Sudilah kiranya mampir, tuan-tuan Muse, karena saya akan menunggu...Mudah-mudahan Adrie Soebono membaca kabar ini.

Selasa, 10 November 2009

Diskotek Berjalan

Empat jam perjalanan pulang ke Makassar terasa sangat menyiksa. Semua berawal dari salah perhitungan oleh sang supir Panther yang terus menerima pesanan nomor kursi. Sebenarnya tidak masalah jika angkutan yang tersedia cukup. Lah ini, gara-gara sesuatu dan lain hal yang tidak diantisipasi sebelumnya, salah satu mobil divonis 'dalam proses perbaikan'. Akibatnya saya dan penumpang lain harus jadi korban, diperlakukan bak barang-barang yang bisa diatur tempatnya dan dimuat-muatkan ke dalam satu mobil.

Sesak minta ampun. Seperti yang sering saya alami jika ke Makassar atau ke Bone, tempat duduk saya lebih sering di kursi paling belakang. Barang-barang di bagasi bertumpuk hingga posisi sandaran kursi hampir tegak lurus. Karena di belakang kami duduk berempat, saya tidak dapat bagian untuk bersandar. Ya Allah, kapan saya bisa menikmati perjalanan dengan santai. Apalagi, seorang ibu paruh baya di depanku tidak berhenti mengomel dengan situasi ini.

Sepanjang jalan, saya menahan posisi tubuh agar tidak ke mana-mana. Kalau seperti begini keadaannya, saya tidak bisa tidur sama sekali selama perjalanan. Penderitaan saya bertambah, ketika Pak Supir menyetel keras sound-sound menghentak sampai ke jantung ala ala tripping diskotek kampung. Hiks...hiks...sempurnalah perjalanan empat jamku.

Saya tidak tahan lagi, tapi apa bisa dikata, Si Supir jadinya ngantuk kalau tidak ada musik pengusik jantung. Keselamatan kami bagaimana pun berada di tangannya...Daripada dia menyuruh kami turun di lokasi antah berantah di tengah malam, lebih baik merecap pengalaman sekali-sekali ini, meski dengan suasana hati yang tidak enak. Sejak mobil meninggalkan kantor agen hingga ke halte perhentian saya, sound-sound itu terus berkumandang, mengejek-ejek saya yang berani mencoba pengalaman baru dalam lembaran sejarah saya bab bolak balik Makassar-Bone.

Jangan Marah, Tidak Ada Ucapan Buatmu

November 9 always stuck in my head...

Itu hari ulang tahunmu, tapi apa peduliku kali ini. Kau mungkin sudah tidak ingat padaku. Aku tahu pesan singkat berisi ucapan selamat akan hilang begitu engkau menekan 'delete' di hape mu. Tidak, aku tidak akan mengirimkan apa pun. Kau tidak pernah ada...

Sometimes I Want the Old One Back

Jika saja Einstein mewariskan mesin waktu, maka saya dengan senang hati kembali ke masa 10 tahun yang lalu, baru kemudian menjalani lima tahun setelahnya. Pada rentang ribuan detik itu, sebuah band Inggris bakal calon idola saya terlahir dan menjalani masa-masa merangkak menjadi salah satu band Live Act terbaik di dekade ini. Apa yang salah dengan 10 tahun berikutnya? Mungkin petunjuk berikut bisa menjawab. Saya merindukan sebuah kesederhanaan dan pendakian menuju puncak kehidupan.

Tapi bukankah kita punya teknologi? Sebuah teknologi mesin waktu bernama internet yang mampu menggali benda 'purba' tanpa harus berada di sana pada saat itu. Saya bisa saja mengumpulkan ratusan video dan foto-foto idola saya dari belasan tahun yang lalu. Tapi mengapa saya masih menyesal terlambat menyadari mereka hingga tidak deg-degan menanti mereka (bersama Blur dan Coldplay) di Glastonbury 2004? Mengapa saya masih merasa tidak cukup meski telah menyaksikan video festival konser itu berulang-ulang?

Sejauh apa pun sebuah internet membawa saya ke dimensi waktu lainnya, tetap saja ada bagian yang tidak penuh. Sayang sekali saya tidak bisa menyaksikan (lebih tepatnya 'berada di sana') Muse muda hingga sampai ke titik tertinggi di Juni itu. Yang saya saksikan secara sadar hanya rangkain fase kulminasi mereka yang konstan dan terjaga. Sehebat apapun tampilan live mereka saat ini dan di masa mendatang, Glastonbury tetap yang terbaik, yang lebih sederhana dan hanya bermodalkan tiga album (tapi ketiganya sangat klasik bagi saya).

Live act Muse di Antwerp-Belgia, Oktober 2009
Salah satu dekor panggung terbaru mereka untuk The Resistance Tour
'extravagant' aye?

Senin, 09 November 2009

Saya dan Kerja

Lima bulan sudah saya menyandang gelar sarjana. "Kerja di mana sekarang?" adalah sebuah pertanyaan alam bawah sadar setiap teman-teman yang pernah terpisah jarak. Dalam periode lima bulan itu pun, terhitung hanya satu kali saya memasukkan pernik-pernik lamaran kerja ke sebuah perusahaan industri di Kawasan Industri Makassar. HasilnyaI screwed it, gagal total.

Sempat pula saya meniatkan diri memasukkan lamaran ke sebuah majalah computer-thing dan sebuah koran nasional, keduanya berbasis di ibukota. Berkas dan kualifikasinya sudah saya genapi, tinggal kirim via pos. Namun, entah mengapa malam berikutnya, semangat saya jadi surut. Mengapa? Padahal saya paham benar pekerjaan semacam ini adalah dunia saya.

Mungkin benar kata salah seorang teman, saya sering memberi jeda/ruang di antara kedua belahan otak saya. Sebuah keputusan mendadak kadang-kadang mengapung ke permukaan, dan itu di luar tebakan orang-orang, bahkan dari perencanaan saya yang matang. Apa yang menggerakkannya, adalah sebuah keentahan lain yang belum bisa saya jawab.

Kata Ka Harwan, segala bentuk pekerjaan itu baik, selama halal, dan dengan bekerja orang akan menjadi sehat. Kalimat ini menjadi air bagi semangat saya yang sering layu. Saya tidak membenci pekerjaan, saya hanya kadang cemburu dengan mereka yang telah bekerja sendiri, hidup dengan biaya sendiri, bahkan sanggup menghidupi orang lain. Maka celakalah orang yang mencemooh orang-orang yang bekerja.

Hidup memang terlalu kuat untuk dikendalikan dalam bentuk rencana-rencana. Ada yang menaklukkan dan ada yang takluk oleh hidup. Kedua pilihan ini bukan untuk dipikirkan, tapi untuk dijalani.

Posting Lama